Minggu, 23 November 2014

aku yang mengaku-ngaku aku membual



Ada aku yang mengaku-ngaku aku, yang tak pernah lelah memberi kepercayaan diluar batasnya sebuah kepercayaan, karena ada aku-aku yang lain yang memburu kata dihutan kata dengan segala semangatnya yang tak pernah berhenti membangun semangat menjadi sebuah keyakinan sampai aku mati aku akan menemanimu itulah janji aku yang mengaku-ngaku aku
Tabung tembakau menjadi teman dari sahabatku, sahabatku pernah bicara tabung tembakau, tabung temmbakau adalah teman yang tidak pernah lelah mengobati tubuh kecil kesayanganku meski tubuhnya lenyap oleh oranye berasap, teman yang tidak pernah lelah membangun semangatnya,  smangat untuk membangun impian aku, aku hanya selalu belajar membiarkan hatiku menuntun tindakanku, karena aku adalah tuan dari apa yang aku miliki, aku hanya belajar, belajar untuk jadi manusia seutuhnya,
Aku yang mengaku-ngaku aku ingin berbicara aku yang mengaku-ngaku aku ingin cerita bagaimana dia lahir, dia lahir saat hati telah kosong oleh harapan pada manusia, saya lahir saat hati merindukan seorang sahabat sejati, saya yang mengaku-ngaku aku dikaruniai oleh aku dengan pikiran idealis, saya terlahir karena aku suka membaca literatur idealisme, terlahir oleh didikan penderitaan, terlahir dengan pandangan sinis aku yang mengaku-ngaku lahir karena aku menginginkannya.
Beginilah jadinya pekerjaanku melamun, tidak suka keramayan, pembenci kaum kapitalis, aku bisa saja melamun semalaman, sampai-sampai orang mengejekku “telurnya udah menetas belum” teriak mereka kala aku keluar dari dunia pertapaanku, aku keluar hanya kala aku bekerja, atau jika ada keperluan mendadak, bagiku pabrik hanya sebuah batu loncatan agar aku bisa bertahan hidup

rindu pada rindu

aku kadang rindu, rindu kata-kata mesra yang keluar lewat jemarinya.
mungkin itu kali pertama aku merindu seorang perempuan, marah, bodoh, cupu, dungu, semuanya ada ketika aku didekatnya. aku serupa partikel-partiel tolol dihadapannya aku benci disisinya, aku benci melihatnya tapi aku merindunya.
oh rumi penyakit apa ini
disudut ruang aku mengadukan rindu pada rindu, mengenang ingatan pada ingatan aku meradang oleh makhluk yang bernama perempuan