Ada aku yang mengaku-ngaku aku, yang tak
pernah lelah memberi kepercayaan diluar batasnya sebuah kepercayaan, karena ada
aku-aku yang lain yang memburu kata dihutan kata dengan segala semangatnya yang
tak pernah berhenti membangun semangat menjadi sebuah keyakinan sampai aku mati
aku akan menemanimu itulah janji aku yang mengaku-ngaku aku
Tabung tembakau
menjadi teman dari sahabatku, sahabatku pernah bicara tabung tembakau, tabung
temmbakau adalah teman yang tidak pernah lelah mengobati tubuh kecil
kesayanganku meski tubuhnya lenyap oleh oranye berasap, teman yang tidak pernah
lelah membangun semangatnya, smangat
untuk membangun impian aku, aku hanya selalu belajar membiarkan hatiku menuntun
tindakanku, karena aku adalah tuan dari apa yang aku miliki, aku hanya belajar,
belajar untuk jadi manusia seutuhnya,
Aku yang
mengaku-ngaku aku ingin berbicara aku yang mengaku-ngaku aku ingin cerita bagaimana
dia lahir, dia lahir saat hati telah kosong oleh harapan pada manusia, saya
lahir saat hati merindukan seorang sahabat sejati, saya yang mengaku-ngaku aku
dikaruniai oleh aku dengan pikiran idealis, saya terlahir karena aku suka
membaca literatur idealisme, terlahir oleh didikan penderitaan, terlahir dengan
pandangan sinis aku yang mengaku-ngaku lahir karena aku menginginkannya.
Beginilah jadinya pekerjaanku melamun, tidak suka
keramayan, pembenci kaum kapitalis, aku bisa saja melamun semalaman,
sampai-sampai orang mengejekku “telurnya udah menetas belum” teriak mereka kala
aku keluar dari dunia pertapaanku, aku keluar hanya kala aku bekerja, atau jika
ada keperluan mendadak, bagiku pabrik hanya
sebuah batu loncatan agar aku bisa bertahan hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar