Senin, 16 Maret 2015

apa itu kreatifitas

Oleh eka kurniawan


Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

Kamis, 12 Maret 2015

hanya hipotesiku

Sebagian besar manusia modern menikahi pasangan.nya yang bukan cinta sejatinya apakah kalian setuju tentang itu.?
Pertanyaan.nya kenapa.?
Karena sebagian manusia modern beranggapan bahwasannya kenyamanan selalu jadi nomor satu untuk seseorang memilih siapa pasangan hidupnya mereka berpikir bahwasannya dengan seseorang yg membuatnya nyaman pernikahan mereka akan bertahan lama
Dalam kata lain cinta sejati belum tentu pasangan hidup mereka yg sekarang menjadi istri atau suami mereka
Dalam kata lain pula manusia modern hanya hidup dari separuh diri mereka

Selasa, 10 Maret 2015

SUKU CHEROOKE,USA

SUKU CHEROOKE,USA
Bag;1

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres. Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama Abdel Khak dan Muhammad Ibnu Abdullah.
Isi perjanjian itu antara lain "adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam". akan ditemukan pula kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban atau surban dan terusan hingga sebatas lutut.
Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar2 punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri, mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.
Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee,Shar-kee, tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutup kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox,Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.
Sequoyah Atau Yang Dikenal Dengan George Gist
Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah.
Subhanallah….Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim? Sejarahnya panjang,
PENEMUAN BENUA AMERIKA PERTAMA ITU ADALAH LAKSAMANA CHENG HO BUKAN COLOMBUS
Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet tentunya saat itu nama planet belum terdengar.selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.
Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Hodan Ibnu Batutta.
Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi meninggal tahun 957, Al Idrisi meninggal tahun 1166, Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari 1300 – 1384 dan Ibn Battuta meninggal tahun 1369.
Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi 871 – 957, Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya,‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ The Meadows of Gold and Quarries of Jewels, Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad 888 – 912, Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba,Palos pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.
Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan2 sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.
Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III tahun 929-961 dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang2 Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba,Palos di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik.menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II 976-1009 seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando Kepulaun Canary.
Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana.

Minggu, 08 Maret 2015

Saya pengen kuliah ibu
Rasa.nya sampai keubun-ubun
Pengen benahin diri
Pengen belajar
Pengen mandiri

Aku bosan berlagak kuat
Aku bosan
Aku lelah ibu

Selama ini aku berjuang
Sendirian
S

Jumat, 06 Maret 2015

asal-usul turki utsmani

ASAL-USUL TURKI USMANI

Kerajaan Turki Usmani didirikan oleh suku bangsa pengembara yang beral dari wilayah Asia tengah yang termasuk suku Kayi, ketika bangsa Mongol menyerang dunia Islam, pemimpin suku Kayi, Sulaiman Syah, mengajak anggota sukuya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol tersebut dan lari ke arah barat. Bangsa Mongol itu mulai menyerang dan menaklukan wilayah Islam yang berada dibawah kekuasaan dinasti Khawarazm Syah tahun 12419-1220. Sulaiman syah meminta perlindungan kepada Jalal ad-Din memberi jalan agar sulaiman pergi ke Barat ke arah Asia Kecil dan disanalah mereka menetap. Sulaiman ingin pindah lagi ke wilayah Syam setelah ancaman mongol reda. Dalam usahanya indah ke negeri syam itu, pemimpin orang-orang Turki tersebut mendapat kecelakaan hanyut disungai Euprat yang tiba-tiba pasang karena banjir besar, tahun 1228.

Mereka akhirnya terbagi menjadi dua kelompok yang pertama ingin ke negeri asal dan yang kedua meneruskan perantauannya ke wilayah Asia Kecil. Kelompok kedua itu berjumlah sekitar 400 keluarga dipimpin oleh Erthogrol anak Sulaiman Syah. Mereka akhirnya menghambakan diri kepada Sultan ‘Ala ad-Din II dari Turki Saljuk Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatolia, Asia Kecil. Pada waktu itu bangsa Saljuk yang serumpun dan seagama dengan orang-orang Turki Imigran melihat bahaya bangsa Romawi yang mempunyai kekuasaan di kemaharajaan Romawi Timur (Bizantium). Dengan adanya pasukan baru dari saudara sebangsanya itu pasukan Saljuk menang atas Romawi. Sultan gembira dengan kemenangan tersebut dan memberi hadiah kepada Erthogrol wilayah yang berbatasan dengan Bizantium, dengan senang hati Erthogrol membangun pendidikan dan berusaha memperluas wilayahnya dengan merebut dan merongrong wilayah Bizantium. Mereka menjadikan Sogud sebagah pusat kekuasaannya. Dinasti Saljuk Rum sendiri sedang surut pada saat itu. Dinasti tersebut telah berkuasa di Anatolia bagian tengah kurang lebih dua ratus tahun lamanya. Sejak tahun 1077 hingga tahun 1300.

Erthogrol memunyai seorang putra yang bernama Usman yang diperkirakan lahir tahun 1258. Nama Usman itulah yang diambil sebagai nama untuk kerjaan Turki Usmani. Erthogrol meninggal tahun 1280.Sepeninggal Erthogrol, atas persetujuan Sultan Alaudin, kedudukan Erthogrol digantikan oleh putranya yang bernama Usman yang memerintah Turki Usmani antara tahun 1281-1224 M. Serangan Mongol terhadap Bagdad termasuk Saljuk yang terjadi pada tahun 1300 yang menyebabkan dinasti ini terpecah-pecah menjadi sejumlah kerajaan kecil. Dalam kondisi kehancuran Saljuk inilah Usman mengklaim kemerdekaan secara penuh atas wilayah yang didudukinya. Sekaligus memproklamisikan berdirinya kerjaan Turki Usmani. Kekuatan militer Usman menajdi benteng pertahanan Sultan dinasti-dinasti kecil dari ancaman bahaya serangan Mongol. Dengan demikian, secara tidak langsung mereka mengakui Usman sebagai penguasa tertinggi dengan gelar “Padiansyah Ali Usman”

Rabu, 04 Maret 2015

proletariat


Dysania
bangun dengan tatapan bebal
kaki tangan penuh kapal
bertekad tebal
berharap anak istri tak sebal melihat dompet kurang tebal
kantong-kantong penuh bekal
dengan lauk yang terlihat gatal
setiap pagi bertemu aspal
kadang binal
berbaur keringat cepal
kumal

PROLETAR