Selasa, 09 Agustus 2016

CERPEN SETENGAH SADAR

Cuma intro
Kabut asap khas dengan aroma tembakaunya melumat tenggorokan lalu menodai paru-paru kecilku dalam satu hembusan nafas kukeluarkan asap abu-abu itu bersama sepersekian rasa sesak dihati tak berselang lama ku basahi tenggorokan kotor itu dengan air pekat berwarna hitam dengan bau khasnya ia mnyapu bersih sisa asap yang masih tertinggal lalu meramu angan yang baru dalam setiap tegukan, aroma itu mulai merubah imaji menjadi sesuatu yang menyegarkan untuk dikenang
Mungkin saya sedang mengigo hari ini beri saja judul
CERPEN SETENGAH SADAR
Suatu ketika seorang perempuan dipertemukan dengan belahan jiwanya tak lama setelaah itu ia pun dilamar oleh kekasihnya, ia pun mulai sibuk dengan rencana pernikahan yang akan dilangsungkannya segala urusan ia urus dengan kekasihnya dari mengurus pesta, surat undangan sampai urusan izin pernikahan pun ia sendiri dan kekasihnya yang melakuka proses perizinannya ia begitu antusias dan bahagia melakukannya namun terlepas dari semua itu saat hari yang ditunggu itu akan tiba hanya kebahagiaan yang ia rasa ia hanyut dibawa perasaan bahagia yang akan dijumpainya sebentar lagi, hingga pada akhirnya disatu malam ia menjumpai ibunya untuk menunjukan gaun yang ia pakai nanti namun ketika ia membuka pintu kamar ibunya senyum itu tiba tiba berubah menjadi air mata ketika ia melihat ibunya sedang melakukan sholat  isyanya dimalam terakhir sebelum ia menikah ia melihat ibunya menangis dalam sholatnya. Ia pun menutup kembali pelan-pelan pintu itu sambil menyeka air matanya ia pun pergi kembali kekamarnya dan menangis semenangisnya. Dalam situasi itu sebelumnya ia tak pernah melihat ibunya menangis selama hidupnya dalam tangisnya hatinya menggerutu “ibu selalu tegar jika dihadapkan dengan masalah yang pelik sekalipun namun kali ini aku melihatnya menangis, aku tak bisa lagi menahan air mata ini” sambil terisak dan menyeka airmatanya dalam benaknya ia terus menggerutu “aku tahu kenapa ibu menangis aku tahu ibu sangat sayang padaku, aku tahu ibu gak mau kehilangan anaknya maka dari itu aku tahu ibu sedang berdoa pada yang kuasa agar kelak lelakiku melindungiku seperti halnya ibuku melindungiku sampai saat ini”
Keesokan harinya setelah ia bangun dari tidurnya ia langsung menemui ibunya dan bersujud dan menciumi kaki ibunya sambil menangis dalam tangisnya ia hanya terus berbicara “maafkan aku bu, maafkan aku, aku banyak salah ama ibu, maafkan aku bu, aku sayang ibu” ibunya hanya tersenyum sambil meneteskan airmata penuh haru tangan ibunya pun mengayun memegang bahu anaknya itu sambil menyuruhnya untuk bangun “bangun nak” ucap ibunya dengan suara lirih maka setelah itu dipeluknya ia oleh ibunya dalam dekapan yang erat itu ia hanya terus menangis “aku sayang ibu, aku sayang ibu” ucapnya “ibu juga sayang kamu nak” balas ibunya sambil menyeka air mata anaknya lalu menciumi pipinya

 begitulah seorang ibu mereka selalu berlagak tegar dihadapan anak-anaknya ia tak pernah mau kelihatan lemah dihadapan anak-anaknya dengan kata lain, secara tidak langsung ibu mengajari kita untuk tetap tegar jika yang maha kuasa memberi kita cobaan. Yah takan pernah ada kata yang pantas untuk menggambarkan betapa ia sangat berharga bagi kita, meski nyatanya kita belum bisa jadi anak yang baik baginya
Dalam hal ini saya hanya ingin berbagi pendapat bahwa setiap kebahagian yang kita rasakan pasti disitu ada peran orang tua didalamnya jangan lupakan itu