Jutaan Bilangan Silang, Tisyu Astrologi, dan Nebula
Berkarat
10
0
Pada kecepatan 220 km/jam tubuh
perempuan itu menabrak-nabrak hujan, membenturkan tubuhnya pada
kedalaman laut yang jatuh dari angkasa.
Sebenarnya dia tak pernah sendirian, denyar-denyar lampu mobil selalu menemaninya kemanapun dia berjalan, atau ditemani hujan.
Bintangnya Aquarius, dia senang menjadikan astrologinya sebagai lap pembersih muka saat debu begitu mengabutkan mata.
Suatu hari perempuan itu meretas kepalaku untuk mencari sebuah kunci yang menjelma tiga dewa berbentuk berhala.
Kunci yang bisa membuka pintu-pintu nebula yang berkarat di kepalanya, akibat hujan yang tak pernah diam, penuh asam mengauskan.
Aku diam saja dalam proses peretasan itu, hanya karena air matanya, air matanya yang menetesi jantungku dengan sempurna, meluluhkan.
Sebenarnya dia tak pernah sendirian, denyar-denyar lampu mobil selalu menemaninya kemanapun dia berjalan, atau ditemani hujan.
Bintangnya Aquarius, dia senang menjadikan astrologinya sebagai lap pembersih muka saat debu begitu mengabutkan mata.
Suatu hari perempuan itu meretas kepalaku untuk mencari sebuah kunci yang menjelma tiga dewa berbentuk berhala.
Kunci yang bisa membuka pintu-pintu nebula yang berkarat di kepalanya, akibat hujan yang tak pernah diam, penuh asam mengauskan.
Aku diam saja dalam proses peretasan itu, hanya karena air matanya, air matanya yang menetesi jantungku dengan sempurna, meluluhkan.
Lama sekali dia meretas disana, di
kepala ini, aku tak tahu kenapa, karena aku hanya diam saja,
seperti Buddha dalam stupa.
Dia sendu, aku tahu, hanya itu… dia lelah, aku tak membantah, tapi terserah… tapi hanya pada awalnya saja pengertian itu bertahan…
Cerita berlanjut pada sebuah curhatan mengagetkan saat purnama bertandang di kota kecil kepalaku, dia bercerita sambil menghisap rokok.
“Aku kedinginan, Ruh…” katanya menggigil, “Aku butuh jaket, sedang musim dingin di kepalamu, banyak salju.”
Aku tetap diam meski kekagetan akibat sapaan kencang seperti bom itu belum hilang, jantungku masih berdetak-detak kencang.
Aku terenyuh, meski dengan diam, aku tersentuh, meski dalam kelam, jaket apa yang bisa kuhadirkan untuknya, jaket apa?
Berbulan-bulan aku tak menemukan jawaban, dia hampir beku, aku masih juga kaku, kami diam- diaman karena alpa memang pandai menyerang segala.
Alpa yang begitu lama, begitu menggoda, hingga saat ini, saat dia sudah membeku jadi batu, terjebak di kepalaku, aku hanya bisa memberinya paku.
Dia sendu, aku tahu, hanya itu… dia lelah, aku tak membantah, tapi terserah… tapi hanya pada awalnya saja pengertian itu bertahan…
Cerita berlanjut pada sebuah curhatan mengagetkan saat purnama bertandang di kota kecil kepalaku, dia bercerita sambil menghisap rokok.
“Aku kedinginan, Ruh…” katanya menggigil, “Aku butuh jaket, sedang musim dingin di kepalamu, banyak salju.”
Aku tetap diam meski kekagetan akibat sapaan kencang seperti bom itu belum hilang, jantungku masih berdetak-detak kencang.
Aku terenyuh, meski dengan diam, aku tersentuh, meski dalam kelam, jaket apa yang bisa kuhadirkan untuknya, jaket apa?
Berbulan-bulan aku tak menemukan jawaban, dia hampir beku, aku masih juga kaku, kami diam- diaman karena alpa memang pandai menyerang segala.
Alpa yang begitu lama, begitu menggoda, hingga saat ini, saat dia sudah membeku jadi batu, terjebak di kepalaku, aku hanya bisa memberinya paku.
Cuaca buruk yang melegenda, karena
alpa tak bisa dilawan dengan buku-buku sejarah atau ensiklopedia,
bahkan Paman Google mulai memakai dandanan hipster sok tahu.
Tapi sementara itu, silahkan
dicerna, sebab ini lebih rumit dari persamaan kuadrat, lebih parah
dari rumus-rumus teori cahaya.
Cuaca buruk ini hanya sebanding
dengan Hukum Alam: JUTAAN BILANGAN SILANG.
Mencarikan jaket atau jalan keluar,
mencairkan kebekuan atau mencari kehangatan komunikasi, mengaji diri
atau berhenti?
Buntu! Setersesat hantu-hantu
berkerudung di kuburankuburan tua.
Demam, serunyam writer’s block, atau
seperti dihantam berbalok-balok es batu tepat di belakang kepala atau
kepalan tangan.
Sudah terkata tanpa ucap darinya
bahwa pencarian ini bukan sekedar memanjakan hidup dengan adrenalin.
Energi dan Hukum Kekekalannya, atau
silat lidah yang teredam di dada, atau mengali-ngalikan bilangan
silang tepat di depan matanya.
Ini bukan orasi budaya tetapi sebuah
radiasi buaya yang membenturkan kekerasan halusinasi dan dialektika
kecemasan.
Hanya bisa diterjemahkan ke dalam
masalah telinga, reduksi otak, dan formalisme purba. Seperti tumpahan
nafas atau setengah waktu di sebuah simpul-simpul penjelajahan persepsi
kepala hanya karena tak mampu membeli jaket.
Psikedelik telak – skizofrenik
klimaks!
Pada beberapa titik kecemasan, ingin
sekali aku melemparkan semua wajahnya kedalam tong sampah!
Terus melupakan kejadian itu untuk
selamalamanya, setidaknya mencoba untuk itu.
Kuharap tong sampah itu tidak
seperti recycle bin. Tapi jikapun persis, maka akan aku klik
kanan, langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin, kutekan
kuat-kuat, berulang-ulang.
Kenyataannya dia tetap tegar membeku
di kepalaku, dan hanya sebuah jaket yang bisa mencairkan jantungnya
lagi, sebuah jaket!
Cuaca buruk tak bisa dibendung,
kerumitan jutaan bilangan silang jadi pertanda bahwa salju akan
terus turun hingga puluhan tahun di kepalaku.
Oh, keterbatasan kemampuan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar