Jumat, 06 November 2015
soe hok gie
Sosoknya sangat terkenal karena tulisannya yang sangat kritis terhadap pemerintah orde lama dan orde baru meskipun ia meninggal dalam usia muda namanya sangat dikenal dikalangan para aktivis karena tulisan-tulisan dan pemikirannya yang sangat fenomenal. Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit seorang novelis dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
Profil dan Kehidupan Soe Hok gie Ketika Kecil
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.
Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?
Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam. Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Naik Gunung dan Mendirikan Mapala UI
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
....Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.
Wafatnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru
Tanggal 8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya:
...Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.
Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
Makam Soe Hok Gie
Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan
abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
...Seorang filsuf Yunani pernah menulis… nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
...Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras… diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil… orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
...Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan..
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
Catatan Seorang Demonstran
Buku Catatan Seorang Demonstran
John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Kata Kata Bijak Soe Hok Gie
Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
To be a human is to be destroyed.
Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Kamis, 08 Oktober 2015
harry baker a love poem for lonely prime number
My name is Harry Baker. Harry Baker is my name. If your name was Harry Baker, then our names would be the same. (Laughter)
0:21
It's a short introductory part.
0:23
Yeah, I'm Harry. I study maths. I write poetry. So I thought I'd start with a love poem about prime numbers. (Laughter)
0:35
This is called "59." I was going to call it "Prime Time Loving." That reaction is why I didn't. (Laughter)
0:43
So, "59."
0:47
59 wakes up on the wrong side of the bed.
0:50
Realizes all his hair is on one side of his head.
0:52
Takes just under a minute to work out that it’s because of the way that he slept.
0:56
He finds some clothes and gets dressed.
0:58
He can’t help but look in the mirror and be subtly impressed
1:01
How he looks rough around the edges and yet casually messed.
1:04
And as he glances out the window, he sees the sight that he gets blessed with of 60 from across the street.
1:09
Now 60 was beautiful.
1:11
With perfectly trimmed cuticles, dressed in something suitable.
1:14
Never rude or crude at all.
1:15
Unimprovable, right on time as usual, more on cue than a snooker ball but liked to play it super cool.
1:21
59 wanted to tell her that he knew her favorite flower.
1:24
He thought of her every second, every minute, every hour.
1:27
But he knew it wouldn’t work, he’d never get the girl.
1:29
Because although she lived across the street they came from different worlds.
1:33
While 59 admired 60’s perfectly round figure, 60 thought 59 was odd. (Laughter)
1:42
One of his favorite films was "101 Dalmatians."
1:46
She preferred the sequel.
1:49
He romanticized the idea they were star-crossed lovers.
1:52
They could overcome the odds and evens because they had each other.
1:56
While she maintained the strict views imposed on her by her mother
1:59
That separate could not be equal.
2:01
And though at the time he felt stupid and dumb
2:03
For trying to love a girl controlled by her stupid mum,
2:05
He should have been comforted by the simple sum.
2:08
Take 59 away from 60, and you’re left with the one.
2:10
Sure enough after two months of moping around,
2:13
61 days later, 61 was who he found,
2:15
He had lost his keys and his parents were out.
2:17
So one day after school he went into a house
2:19
As he noticed the slightly wonky numbers on the door,
2:22
He wondered why he’d never introduced himself before,
2:24
As she let him in, his jaw dropped in awe.
2:27
61 was like 60, but a little bit more. (Laughter)
2:30
She had prettier eyes, and an approachable smile,
2:33
And like him, rough around the edges, casual style,
2:36
And like him, everything was in disorganized piles,
2:38
And like him, her mum didn’t mind if friends stayed a while.
2:41
Because she was like him, and he liked her.
2:43
He reckoned she would like him if she knew he was like her,
2:46
And it was different this time. I mean, this girl was wicked,
2:49
So he plucked up the courage and asked for her digits.
2:51
She said, "I'm 61." He grinned, said, "I'm 59."
2:56
Today I’ve had a really nice time,
2:57
So tomorrow if you wanted you could come over to mine?
3:00
She said, "Sure."
3:01
She loved talking to someone just as quirky,
3:03
She agreed to this unofficial first date.
3:05
In the end he was only ready one minute early,
3:07
But it didn’t matter because she arrived one minute late.
3:10
And from that moment on there was nonstop chatter,
3:12
How they loved "X Factor," how they had two factors,
3:15
How that did not matter, distinctiveness made them better,
3:19
By the end of the night they knew they were meant together.
3:22
And one day she was talking about stuck-up 60,
3:25
She noticed that 59 looked a bit shifty.
3:27
He blushed, told her of his crush:
3:28
“The best thing that never happened because it led to us.”
3:31
61 was clever, see, not prone to jealousy,
3:34
She looked him in the eyes and told him quite tenderly,
3:37
"You’re 59, I’m 61, together we combine to become twice what 60 could ever be." (Laughter)
3:45
At this point 59 had tears in his eyes,
3:47
Was so glad to have this one-of-a-kind girl in his life.
3:50
He told her the very definition of being prime
3:52
Was that with only one and himself could his heart divide,
3:55
And she was the one he wanted to give his heart to,
3:57
She said she felt the same and now she knew the films were half true.
4:01
Because that wasn't real love, that love was just a sample,
4:03
When it came to real love, they were a prime example.
4:07
Cheers.
4:08
(Applause)
4:19
That was the first poem that I wrote and it was for a prime number-themed poetry night -- (Laughter) -- which turned out to be a prime number-themed poetry competition. And I became a prime number-themed poetry competition winner, or as I like to call it, a prime minister. (Laughter) And this is how I discovered these things called poetry slams, and if you don't know what a poetry slam is, it was a format come up with in America 30 years ago as a way of tricking people into going to poetry events by putting an exciting word like "slam" on the end. (Laughter)
4:50
And each performer got three minutes to perform and then random audience members would hold up scorecards, and they would end up with a numerical score, and what this meant is, it kind of broke down the barrier between performer and audience and encouraged the kind of connection with the listener. And what it also means is you can win. And if you win a poetry slam, you can call yourself a slam champion and pretend you're a wrestler, and if you lose a poetry slam you can say, "Oh, what? Poetry's a subjective art form, you can't put numbers on such things." (Laughter)
5:22
But I loved it, and I got involved in these slams, and I became the U.K. slam champion and got invited to the Poetry World Cup in Paris, which was unbelievable. It was people from all around the world speaking in their native languages to be judged by five French strangers. (Laughter) And somehow, I won, which was great, and I've been able to travel the world since doing it, but it also means that this next piece is technically the best poem in the world. (Laughter) So... (Applause) According to five French strangers.
6:05
So this is "Paper People."
6:09
I like people.
6:11
I'd like some paper people.
6:13
They’d be purple paper people. Maybe pop-up purple paper people.
6:17
Proper pop-up purple paper people.
6:19
"How do you prop up pop-up purple paper people?"
6:22
I hear you cry. Well I ...
6:25
I’d probably prop up proper pop-up purple paper people
6:28
with a proper pop-up purple people paperclip,
6:31
but I’d pre-prepare appropriate adhesives as alternatives,
6:34
a cheeky pack of Blu Tack just in case the paper slipped.
6:37
Because I could build a pop-up metropolis.
6:39
but I wouldn’t wanna deal with all the paper people politics.
6:42
paper politicians with their paper-thin policies,
6:44
broken promises without appropriate apologies.
6:46
There’d be a little paper me. And a little paper you.
6:50
And we could watch paper TV and it would all be pay-per-view. (Laughter)
6:55
We’d see the poppy paper rappers rap about their paper package
6:58
or watch paper people carriers get stuck in paper traffic on the A4. (Laughter) Paper.
7:06
There’d be a paper princess Kate but we’d all stare at paper Pippa,
7:11
and then we’d all live in fear of killer Jack the Paper-Ripper,
7:14
because the paper propaganda propagates the people's prejudices,
7:17
papers printing pictures of the photogenic terrorists.
7:20
A little paper me. And a little paper you.
7:22
And in a pop-up population people’s problems pop up too.
7:25
There’d be a pompous paper parliament who remained out of touch,
7:28
and who ignored the people's protests about all the paper cuts,
7:31
then the peaceful paper protests would get blown to paper pieces,
7:34
by the confetti cannons manned by pre-emptive police.
7:37
And yes there’d still be paper money, so there’d still be paper greed,
7:40
and the paper piggy bankers pocketing more than they need,
7:43
purchasing the potpourri to pepper their paper properties,
7:46
others live in poverty and ain’t acknowledged properly.
7:48
A proper poor economy where so many are proper poor,
7:51
but while their needs are ignored the money goes to big wars.
7:54
Origami armies unfold plans for paper planes
7:56
and we remain imprisoned in our own paper chains,
7:58
but the greater shame is that it always seems to stay the same,
8:02
what changes is who’s in power choosing how to lay the blame,
8:05
they’re naming names, forgetting these are names of people,
8:08
because in the end it all comes down to people.
8:11
I like people.
8:13
'Cause even when the situation’s dire,
8:14
it is only ever people who are able to inspire,
8:17
and on paper, it’s hard to see how we all cope.
8:20
But in the bottom of Pandora’s box there’s still hope,
8:23
and I still hope 'cause I believe in people.
8:25
People like my grandparents.
8:28
Who every single day since I was born, have taken time out of their morning to pray for me.
8:33
That’s 7892 days straight of someone checking I’m okay, and that’s amazing.
8:38
People like my aunt who puts on plays with prisoners.
8:41
People who are capable of genuine forgiveness.
8:43
People like the persecuted Palestinians.
8:45
People who go out of their way to make your life better, and expect nothing in return.
8:49
You see, people have potential to be powerful.
8:52
Just because the people in power tend to pretend to be victims
8:55
we don’t need to succumb to that system.
8:57
And a paper population is no different.
8:59
There’s a little paper me. And a little paper you.
9:03
And in a pop-up population people's problems pop up too,
9:05
but even if the whole world fell apart then we’d still make it through.
9:09
Because we’re people.
9:11
Thank you.
9:14
(Applause)
9:29
Thank you very much. I've just got time for one more.
9:32
For me, poetry has been the ultimate way of ideas without frontiers. When I first started, the people who inspired me were the ones with the amazing stories, and I thought, as an 18-year-old with a happy life, it was too normal, but I could create these worlds where I could talk about my experiences and dreams and beliefs. So it's amazing to be here in front of you today. Thank you for being here. If you weren't here, it would be pretty much like the sound check yesterday. (Laughter) And this is more fun.
10:02
So this last one is called "The Sunshine Kid."
10:04
Thank you very much for listening.
10:07
Old man sunshine was proud of his sun,
10:11
And it brightened his day to see his little boy run,
10:13
Not because of what he’d done, nor the problems overcome,
10:16
But that despite that his disposition remained a sunny one.
10:19
It hadn’t always been like this.
10:21
There’d been times when he’d tried to hide his brightness,
10:24
You see, every star hits periods of hardship,
10:26
It takes a brighter light to inspire them through the darkness.
10:29
If we go back to when he was born in a nebula,
10:32
We know that he never was thought of as regular,
10:34
Because he had a flair about him,
10:36
To say the Midas touch is wrong
10:37
But all he went near seemed to turn a little bronze,
10:40
Yes this sun was loved by some more than others,
10:42
It was a case of Joseph and his dreamcoat and his brothers
10:45
Because standing out from the crowd had its pros and its cons,
10:48
And jealousy created enemies in those he outshone
10:51
Such as the Shadow People.
10:52
Now the Shadow People didn’t like the Sunshine Kid,
10:54
Because he showed up the dark things the Shadow People did,
10:57
And when he shone he showed the places where the Shadow People hid,
11:00
So the Shadow People had an evil plan to get rid of him,
11:03
First up -- they made fun of his sunspots,
11:05
Shooting his dreams from the sky, their words were gunshots,
11:08
Designed to remind him he wasn’t very cool
11:11
And he didn’t fit in with any popular kids at school.
11:13
They said his head was up in space and they would bring him down to Earth,
11:17
Essentially he came from nothing and that is what he was worth,
11:20
He’d never get to go to university to learn,
11:22
Only degrees he’d ever show would be the first degree burns
11:25
From those that came too close, they told him he was too bright,
11:28
That’s why no one ever looked him in the eyes,
11:30
His judgment became clouded
11:31
So did the sky, With evaporated tears
11:33
as the sun started to cry.
11:35
Because the sunshine kid was bright, with a warm personality,
11:40
And inside he burned savagely
11:42
Hurt by the words and curses of the shadowy folk
11:44
who spoke holes in his soul and left cavities,
11:47
And as his heart hardened, his spark darkened,
11:51
Every time they called him names it cooled his flames,
11:53
He thought they might like him if he kept his light dim
11:56
But they were busy telling lightning she had terrible aim,
11:59
He couldn’t quite get to grips with what they said,
12:02
So he let his light be eclipsed by what they said,
12:05
He fell into a Lone Star State like Texas,
12:07
And felt like he’d been punched in his solar plexus.
12:09
But that’s when Little Miss Sunshine came along
12:13
Singing her favorite song about how we’re made to be strong,
12:16
And you don’t have to be wrong to belong, Just be true to who you are,
12:20
because we are all stars at heart.
12:22
Little Miss Sunshine was hot stuff,
12:26
The kind of girl when you looked at her
12:28
you forgot stuff,
12:30
But for him, there was no forgetting her,
12:32
The minute he saw her her image burned in his retina,
12:34
She was out of this world, and she accepted him,
12:36
Something about this girl meant he knew whenever she was next to him,
12:40
Things weren’t as dark as they seemed, and he dared to dream,
12:43
Shadows were nowhere to be seen; when she was there he beamed,
12:46
His eyes would light up in ways that can’t be faked,
12:48
When she grinned her rays erased the razor-tipped words of hate,
12:51
They gave each other nicknames, they were "cool star" and "fun sun,"
12:54
And gradually the shadowy damage became undone,
12:57
She was one in a septillion, and she was brilliant,
13:01
Could turn the coldest blooded reptilians vermillion,
13:04
Loved by billions, from Chileans to Brazilians,
13:07
And taught the Sunshine Kid the meaning of resilience.
13:09
She said: “All the darkness in the world
13:12
cannot put out the light from a single candle
13:15
So how the hell can they handle your light?
13:17
Only you can choose to dim it, and the sky is the limit, so silence the critics by burning.”
13:22
And if eyes are windows to the soul then she drew back the curtains
13:25
And let the sun shine through the hurting.
13:27
In a universe of adversity these stars stuck together,
13:30
And though days became nights the memories would last forever,
13:33
Whether the weatherman said it or not, it would be fine,
13:36
'Cause even behind the clouds the kid could still shine.
13:38
Yes, the Sunshine Kid was bright, with a warm personality,
13:41
And inside he burned savagely,
13:43
Fueled by the fire inspired across galaxies
13:46
By the girl who showed him belief.
13:49
Thank you very much.
Herry baker
0:21
It's a short introductory part.
0:23
Yeah, I'm Harry. I study maths. I write poetry. So I thought I'd start with a love poem about prime numbers. (Laughter)
0:35
This is called "59." I was going to call it "Prime Time Loving." That reaction is why I didn't. (Laughter)
0:43
So, "59."
0:47
59 wakes up on the wrong side of the bed.
0:50
Realizes all his hair is on one side of his head.
0:52
Takes just under a minute to work out that it’s because of the way that he slept.
0:56
He finds some clothes and gets dressed.
0:58
He can’t help but look in the mirror and be subtly impressed
1:01
How he looks rough around the edges and yet casually messed.
1:04
And as he glances out the window, he sees the sight that he gets blessed with of 60 from across the street.
1:09
Now 60 was beautiful.
1:11
With perfectly trimmed cuticles, dressed in something suitable.
1:14
Never rude or crude at all.
1:15
Unimprovable, right on time as usual, more on cue than a snooker ball but liked to play it super cool.
1:21
59 wanted to tell her that he knew her favorite flower.
1:24
He thought of her every second, every minute, every hour.
1:27
But he knew it wouldn’t work, he’d never get the girl.
1:29
Because although she lived across the street they came from different worlds.
1:33
While 59 admired 60’s perfectly round figure, 60 thought 59 was odd. (Laughter)
1:42
One of his favorite films was "101 Dalmatians."
1:46
She preferred the sequel.
1:49
He romanticized the idea they were star-crossed lovers.
1:52
They could overcome the odds and evens because they had each other.
1:56
While she maintained the strict views imposed on her by her mother
1:59
That separate could not be equal.
2:01
And though at the time he felt stupid and dumb
2:03
For trying to love a girl controlled by her stupid mum,
2:05
He should have been comforted by the simple sum.
2:08
Take 59 away from 60, and you’re left with the one.
2:10
Sure enough after two months of moping around,
2:13
61 days later, 61 was who he found,
2:15
He had lost his keys and his parents were out.
2:17
So one day after school he went into a house
2:19
As he noticed the slightly wonky numbers on the door,
2:22
He wondered why he’d never introduced himself before,
2:24
As she let him in, his jaw dropped in awe.
2:27
61 was like 60, but a little bit more. (Laughter)
2:30
She had prettier eyes, and an approachable smile,
2:33
And like him, rough around the edges, casual style,
2:36
And like him, everything was in disorganized piles,
2:38
And like him, her mum didn’t mind if friends stayed a while.
2:41
Because she was like him, and he liked her.
2:43
He reckoned she would like him if she knew he was like her,
2:46
And it was different this time. I mean, this girl was wicked,
2:49
So he plucked up the courage and asked for her digits.
2:51
She said, "I'm 61." He grinned, said, "I'm 59."
2:56
Today I’ve had a really nice time,
2:57
So tomorrow if you wanted you could come over to mine?
3:00
She said, "Sure."
3:01
She loved talking to someone just as quirky,
3:03
She agreed to this unofficial first date.
3:05
In the end he was only ready one minute early,
3:07
But it didn’t matter because she arrived one minute late.
3:10
And from that moment on there was nonstop chatter,
3:12
How they loved "X Factor," how they had two factors,
3:15
How that did not matter, distinctiveness made them better,
3:19
By the end of the night they knew they were meant together.
3:22
And one day she was talking about stuck-up 60,
3:25
She noticed that 59 looked a bit shifty.
3:27
He blushed, told her of his crush:
3:28
“The best thing that never happened because it led to us.”
3:31
61 was clever, see, not prone to jealousy,
3:34
She looked him in the eyes and told him quite tenderly,
3:37
"You’re 59, I’m 61, together we combine to become twice what 60 could ever be." (Laughter)
3:45
At this point 59 had tears in his eyes,
3:47
Was so glad to have this one-of-a-kind girl in his life.
3:50
He told her the very definition of being prime
3:52
Was that with only one and himself could his heart divide,
3:55
And she was the one he wanted to give his heart to,
3:57
She said she felt the same and now she knew the films were half true.
4:01
Because that wasn't real love, that love was just a sample,
4:03
When it came to real love, they were a prime example.
4:07
Cheers.
4:08
(Applause)
4:19
That was the first poem that I wrote and it was for a prime number-themed poetry night -- (Laughter) -- which turned out to be a prime number-themed poetry competition. And I became a prime number-themed poetry competition winner, or as I like to call it, a prime minister. (Laughter) And this is how I discovered these things called poetry slams, and if you don't know what a poetry slam is, it was a format come up with in America 30 years ago as a way of tricking people into going to poetry events by putting an exciting word like "slam" on the end. (Laughter)
4:50
And each performer got three minutes to perform and then random audience members would hold up scorecards, and they would end up with a numerical score, and what this meant is, it kind of broke down the barrier between performer and audience and encouraged the kind of connection with the listener. And what it also means is you can win. And if you win a poetry slam, you can call yourself a slam champion and pretend you're a wrestler, and if you lose a poetry slam you can say, "Oh, what? Poetry's a subjective art form, you can't put numbers on such things." (Laughter)
5:22
But I loved it, and I got involved in these slams, and I became the U.K. slam champion and got invited to the Poetry World Cup in Paris, which was unbelievable. It was people from all around the world speaking in their native languages to be judged by five French strangers. (Laughter) And somehow, I won, which was great, and I've been able to travel the world since doing it, but it also means that this next piece is technically the best poem in the world. (Laughter) So... (Applause) According to five French strangers.
6:05
So this is "Paper People."
6:09
I like people.
6:11
I'd like some paper people.
6:13
They’d be purple paper people. Maybe pop-up purple paper people.
6:17
Proper pop-up purple paper people.
6:19
"How do you prop up pop-up purple paper people?"
6:22
I hear you cry. Well I ...
6:25
I’d probably prop up proper pop-up purple paper people
6:28
with a proper pop-up purple people paperclip,
6:31
but I’d pre-prepare appropriate adhesives as alternatives,
6:34
a cheeky pack of Blu Tack just in case the paper slipped.
6:37
Because I could build a pop-up metropolis.
6:39
but I wouldn’t wanna deal with all the paper people politics.
6:42
paper politicians with their paper-thin policies,
6:44
broken promises without appropriate apologies.
6:46
There’d be a little paper me. And a little paper you.
6:50
And we could watch paper TV and it would all be pay-per-view. (Laughter)
6:55
We’d see the poppy paper rappers rap about their paper package
6:58
or watch paper people carriers get stuck in paper traffic on the A4. (Laughter) Paper.
7:06
There’d be a paper princess Kate but we’d all stare at paper Pippa,
7:11
and then we’d all live in fear of killer Jack the Paper-Ripper,
7:14
because the paper propaganda propagates the people's prejudices,
7:17
papers printing pictures of the photogenic terrorists.
7:20
A little paper me. And a little paper you.
7:22
And in a pop-up population people’s problems pop up too.
7:25
There’d be a pompous paper parliament who remained out of touch,
7:28
and who ignored the people's protests about all the paper cuts,
7:31
then the peaceful paper protests would get blown to paper pieces,
7:34
by the confetti cannons manned by pre-emptive police.
7:37
And yes there’d still be paper money, so there’d still be paper greed,
7:40
and the paper piggy bankers pocketing more than they need,
7:43
purchasing the potpourri to pepper their paper properties,
7:46
others live in poverty and ain’t acknowledged properly.
7:48
A proper poor economy where so many are proper poor,
7:51
but while their needs are ignored the money goes to big wars.
7:54
Origami armies unfold plans for paper planes
7:56
and we remain imprisoned in our own paper chains,
7:58
but the greater shame is that it always seems to stay the same,
8:02
what changes is who’s in power choosing how to lay the blame,
8:05
they’re naming names, forgetting these are names of people,
8:08
because in the end it all comes down to people.
8:11
I like people.
8:13
'Cause even when the situation’s dire,
8:14
it is only ever people who are able to inspire,
8:17
and on paper, it’s hard to see how we all cope.
8:20
But in the bottom of Pandora’s box there’s still hope,
8:23
and I still hope 'cause I believe in people.
8:25
People like my grandparents.
8:28
Who every single day since I was born, have taken time out of their morning to pray for me.
8:33
That’s 7892 days straight of someone checking I’m okay, and that’s amazing.
8:38
People like my aunt who puts on plays with prisoners.
8:41
People who are capable of genuine forgiveness.
8:43
People like the persecuted Palestinians.
8:45
People who go out of their way to make your life better, and expect nothing in return.
8:49
You see, people have potential to be powerful.
8:52
Just because the people in power tend to pretend to be victims
8:55
we don’t need to succumb to that system.
8:57
And a paper population is no different.
8:59
There’s a little paper me. And a little paper you.
9:03
And in a pop-up population people's problems pop up too,
9:05
but even if the whole world fell apart then we’d still make it through.
9:09
Because we’re people.
9:11
Thank you.
9:14
(Applause)
9:29
Thank you very much. I've just got time for one more.
9:32
For me, poetry has been the ultimate way of ideas without frontiers. When I first started, the people who inspired me were the ones with the amazing stories, and I thought, as an 18-year-old with a happy life, it was too normal, but I could create these worlds where I could talk about my experiences and dreams and beliefs. So it's amazing to be here in front of you today. Thank you for being here. If you weren't here, it would be pretty much like the sound check yesterday. (Laughter) And this is more fun.
10:02
So this last one is called "The Sunshine Kid."
10:04
Thank you very much for listening.
10:07
Old man sunshine was proud of his sun,
10:11
And it brightened his day to see his little boy run,
10:13
Not because of what he’d done, nor the problems overcome,
10:16
But that despite that his disposition remained a sunny one.
10:19
It hadn’t always been like this.
10:21
There’d been times when he’d tried to hide his brightness,
10:24
You see, every star hits periods of hardship,
10:26
It takes a brighter light to inspire them through the darkness.
10:29
If we go back to when he was born in a nebula,
10:32
We know that he never was thought of as regular,
10:34
Because he had a flair about him,
10:36
To say the Midas touch is wrong
10:37
But all he went near seemed to turn a little bronze,
10:40
Yes this sun was loved by some more than others,
10:42
It was a case of Joseph and his dreamcoat and his brothers
10:45
Because standing out from the crowd had its pros and its cons,
10:48
And jealousy created enemies in those he outshone
10:51
Such as the Shadow People.
10:52
Now the Shadow People didn’t like the Sunshine Kid,
10:54
Because he showed up the dark things the Shadow People did,
10:57
And when he shone he showed the places where the Shadow People hid,
11:00
So the Shadow People had an evil plan to get rid of him,
11:03
First up -- they made fun of his sunspots,
11:05
Shooting his dreams from the sky, their words were gunshots,
11:08
Designed to remind him he wasn’t very cool
11:11
And he didn’t fit in with any popular kids at school.
11:13
They said his head was up in space and they would bring him down to Earth,
11:17
Essentially he came from nothing and that is what he was worth,
11:20
He’d never get to go to university to learn,
11:22
Only degrees he’d ever show would be the first degree burns
11:25
From those that came too close, they told him he was too bright,
11:28
That’s why no one ever looked him in the eyes,
11:30
His judgment became clouded
11:31
So did the sky, With evaporated tears
11:33
as the sun started to cry.
11:35
Because the sunshine kid was bright, with a warm personality,
11:40
And inside he burned savagely
11:42
Hurt by the words and curses of the shadowy folk
11:44
who spoke holes in his soul and left cavities,
11:47
And as his heart hardened, his spark darkened,
11:51
Every time they called him names it cooled his flames,
11:53
He thought they might like him if he kept his light dim
11:56
But they were busy telling lightning she had terrible aim,
11:59
He couldn’t quite get to grips with what they said,
12:02
So he let his light be eclipsed by what they said,
12:05
He fell into a Lone Star State like Texas,
12:07
And felt like he’d been punched in his solar plexus.
12:09
But that’s when Little Miss Sunshine came along
12:13
Singing her favorite song about how we’re made to be strong,
12:16
And you don’t have to be wrong to belong, Just be true to who you are,
12:20
because we are all stars at heart.
12:22
Little Miss Sunshine was hot stuff,
12:26
The kind of girl when you looked at her
12:28
you forgot stuff,
12:30
But for him, there was no forgetting her,
12:32
The minute he saw her her image burned in his retina,
12:34
She was out of this world, and she accepted him,
12:36
Something about this girl meant he knew whenever she was next to him,
12:40
Things weren’t as dark as they seemed, and he dared to dream,
12:43
Shadows were nowhere to be seen; when she was there he beamed,
12:46
His eyes would light up in ways that can’t be faked,
12:48
When she grinned her rays erased the razor-tipped words of hate,
12:51
They gave each other nicknames, they were "cool star" and "fun sun,"
12:54
And gradually the shadowy damage became undone,
12:57
She was one in a septillion, and she was brilliant,
13:01
Could turn the coldest blooded reptilians vermillion,
13:04
Loved by billions, from Chileans to Brazilians,
13:07
And taught the Sunshine Kid the meaning of resilience.
13:09
She said: “All the darkness in the world
13:12
cannot put out the light from a single candle
13:15
So how the hell can they handle your light?
13:17
Only you can choose to dim it, and the sky is the limit, so silence the critics by burning.”
13:22
And if eyes are windows to the soul then she drew back the curtains
13:25
And let the sun shine through the hurting.
13:27
In a universe of adversity these stars stuck together,
13:30
And though days became nights the memories would last forever,
13:33
Whether the weatherman said it or not, it would be fine,
13:36
'Cause even behind the clouds the kid could still shine.
13:38
Yes, the Sunshine Kid was bright, with a warm personality,
13:41
And inside he burned savagely,
13:43
Fueled by the fire inspired across galaxies
13:46
By the girl who showed him belief.
13:49
Thank you very much.
Herry baker
Senin, 28 September 2015
tadinya
Suatu ketika ada
seorang anak bodoh yang menyadari kebodohannya, ia tak peduli dengan apapun
selain belajar dan belajar namun suatu ketika ada sesuatu didunia ini yang
mengalihkan perhatiannya dan dia mulai memikirkan dan semenjak saat itu belajar
bukan lagi menjadi satu-satunya hal yang dipikirkannya, sesuatu itu ialah
perempuan. Ia jatuh cinta dan mulai menggeser prinsip belajarnya itu sudah lama
ia mengabaikan apapun yang ada dihadapannya namun kali ini bagi dia berbeda,
malam demi malam dilaluinya pesan-pesan selulerpun mulai mengalir begitu saja
mengungkapkan setiap rindu, dan mengobrol semalaman tak lantas terlewatkan
olehnya, dan puisi yang dianggapnya sakral mulai memenuhi inbox
taman
Taman
punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
namun suatu ketika pesan-pesan yang terkirim
hanya sebuah kepalsuan maka puisi sakral itu pun berubah
Tadinya taman
Tadinya taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Tadinya taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Tadinya Kau kembang, aku kumbang
Tadinya aku kumbang, kau kembang
Kecil, Tadinya penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Tadinya taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Tadinya Kau kembang, aku kumbang
Tadinya aku kumbang, kau kembang
Kecil, Tadinya penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
tadinya
dibawah blood supermoon aku mengigau
Pukul sepuluh
tujuh belas menit petang, jariku tak tahan mengalir begitu saja, tak tau ingin
bicara seperti apa mulut dan hati ini namun jemariku mewakilinya seakan dia
tahu apa yang harus dilakukannya jika tuannya mulai bingung apa lagi yang harus
dilakukan selain mengigau dibalik layar empat belas incinya, berharap kantuk
melanda kepalanya, “akh kau mau saja diperbudak daging abu-abu beku itu” Seakan
jariku bisa bicara ketika bibir ini tak sanggup lagi memuntahkan sepatah atau
dua patah kata yang tak biasa didengar sebelumnya, terkadang dalam imajiku layar empat belas inci
ini pun berbicara mencaci, mengutuk sipemiliknya “kau itu produk gagal buat apa
kau menyuruhku menemanimu tak ada gunanya berbincang denganku aku tak akan
meladenimu” akh kadang saat tak ada lagi suara, pikiranku melayang begitu saja
berimajinasi bebas, sarkas, namun kucoba mengimbanginya dengan akal sehat maka
terciptalah brisan kata konyol ini mengisi ruang di backgroun putih berikon W
(microsoft office word), yah tak mau kondisi ini terus berkelanjutan maka kucabut
teman terbaiku dari ruamah merahnya dipaksa untuk menemaniku dengan asap
ajaibnya yang dapat membawa penat setiap apa yang dikeluarkannya dari dalam
tubuhku, hari senin dipenghujung bulan september dua ribu lima belas, kupikir
malam ini tak seperti biasanya begitu sunyi, sepi, suara jangkri berbaur suara serangga-serangga kecil menjadi
instrument yang menggambarkan malam ini begitu basi terlihat super moon dengan
warna yang sedikit lebih merah dan berukuran lebih besar konon malam ini
penomena langka karena kita bisa menyaksikan bulan besar dengan warna merah
darah aku pikir malam ini adalah malam dimana invinite tskuyomi diaktifkan oleh
madara akh tapi itu hanya ada di manga masashi kisimoto, hii mungin bulan
sedang terluka didera rasa patah hati melihat kondisi bumi yang sudah begitu
renta diperkosa oleh manusia-manusia keji, bagaimana tidak beertepatan dengan
bulan ini banyak sekali kejadian kejadian yang begitu menyakitkan bila kita
saksikan banyak berita-berita entah dari tv atau media sosial banyak dikabarkan
orang-orang saling membunuh satu sama lain, bayak hutan terbakar oleh
kepentingan manusia rakus, banyak fitnah sana-sini, lalu baru saja saya dengan
di tiur tengah sana tepatnya dibumi para nabi, bumi palestina hari ini zionis
kembali mulai menginvasi al-quds provokasi berkepentingan untuk menyulut api
peperangan, darah, jiwa-jiwa tanpa noda akan kembali jadi taruhan untuk sesuatu
yang tak bernilai jika dibandingkan dengan nyawa seorang anak kecil yaitu
kekuasaan, miris sekali saya mendengarnya tapi itulah kennyataannya. Aku disini
hanya bisa melihat bagaimana sisi kemanusiaan dari manusia perlahan hilang,
nyawa tak lagi berharga daripada uang, padahal amnusia diciptakan sebagai
khalifah yang tentu saja pungsinya jelas menjaga dan merawat agar bumi ini
menjadi tempat yang yaman demi keberlangsungan hidup manusia namun kini itu
semua diabaikan begitu saja.
Selasa, 22 September 2015
butterfly effect story
Yaah hanya bisa berkutat pada mesin pencari google, mencoba mengisi wawasan meski daging berwarna abu-abu ini bebal effek asap dari tembakau berkepala oranye, disadari atau tidak yaaaaaah de.javu berseri hampir tiap malam dengan rutinitas yang serupa maka tidak dipungkiri de.javu menghampiriku mungkin tiga kali sehari, udah kaya makan obat deh kayanya. Banyak orang bilang de.javu disebabbkan oleh hal yang pernah terekam oleh memori namun tak disadari. Mungkin jawabku “atau mungkin bisa jadi aleh rutinitas yang konyol yang tak diingini”. Hiiiihi #gigless semenjak bekerja disebuah pergudangan tak lagi jadi rutinitasku kini tidur berjam-jam, makan sedikit, lalu mengetik satu atau sampai dua patah kata jadi hal yang mungkin dibilang kesibukannku, haahaa tidur kok menjadi kesibukan #gak papa lah “ngomong sendirian”
Jam berdetak begitu cepat waktu tak pernah bisa ku kejar seakan dunia berputar lebih cepat dari biasanya, sudah 2 bulan aku tergeletak disebuah dunia entah berantah, berpetelualang dengan imaji, di dalam kotak penuh warna dan barisan kata yang tak biasa, aku seakan terbang membayangkan sosok gadis menjengkelkan yang pernah ku temui, aku di telan rasa benci ufffs terkadang jika teringat setahun silam saat butiran gula yang kutuangkan tak di terima oleh gelas yang kupikir terlihat kosong, namun dari kekosongan itu terlihat sekat bening yang mengelabui, umpama predator dengan kamuplasenya. aku ditipu, dibohongi, dirayu, disogok oleh ucapan-ucapan jemari lentik melalui keyboard virtualnya aku percaya, lalu tubuhku tak kuasa ku kendalikan hingga sampai aku dipertengahan lampu merah, dengan kikuk aku mengendarai roda dua, uffss aku yakin dentingan waktu dalam lampu trotoar itu mengubahku menjadi sekarang, butterfly effect
Jam berdetak begitu cepat waktu tak pernah bisa ku kejar seakan dunia berputar lebih cepat dari biasanya, sudah 2 bulan aku tergeletak disebuah dunia entah berantah, berpetelualang dengan imaji, di dalam kotak penuh warna dan barisan kata yang tak biasa, aku seakan terbang membayangkan sosok gadis menjengkelkan yang pernah ku temui, aku di telan rasa benci ufffs terkadang jika teringat setahun silam saat butiran gula yang kutuangkan tak di terima oleh gelas yang kupikir terlihat kosong, namun dari kekosongan itu terlihat sekat bening yang mengelabui, umpama predator dengan kamuplasenya. aku ditipu, dibohongi, dirayu, disogok oleh ucapan-ucapan jemari lentik melalui keyboard virtualnya aku percaya, lalu tubuhku tak kuasa ku kendalikan hingga sampai aku dipertengahan lampu merah, dengan kikuk aku mengendarai roda dua, uffss aku yakin dentingan waktu dalam lampu trotoar itu mengubahku menjadi sekarang, butterfly effect
Minggu, 20 September 2015
the weakest home lyrics subtitle indonesia
Wainna auhanal buyuut la baitul ankabuut lau kaanu ya’lamun
“...dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, jika mereka mengetahuinya” (Qs.Al Ankabut ayat 41)
Bukan hanya karena jaringnya, tapi juga krena apa yang terjadi didalamnya sarang yang penuh dengan pertengkaran kejam, pasangan hidup yang saling menyakiti, mereka saling memakan. Setelah selesai berhubungan, laba-laba betina akan memakan yang jantan. Memakan pasangannya sendiri. Sungguh menjijikan. Begitupun dengan anak-anaknya. Setelah dewasa, mereka akan memakan ibunya sendiri. Betapa seram dan kejam. Aku tak ingin membayangkannya, tapi itu realita. Dan keluarga laba-laba dijadikan perumpamaan, bukan karena tuhan kejam, tapi karena Allah ingin membuktikan bahwa rumah paling rapuh adalah yang penghuniinya disalah gunakan.
Pernikahan seharusnya membawa kebahagiaan, dan rumah adalah tempat berlindung yang penuh ketentraman dan rasa nyaman. Dan seandainya ada pertengkaran, sadarlah bahwa pernikahan bukan hanya tentang dirimu seorang, tapi adalah dua orang yang belajar hidup menjadi satu didalam yang merasa saling memiliki dengan cinta, kebaikan dan kemurahan hati. Dimana tak perlu bertengkar setiap ada hal kecil yang salah. Karena, kau tak akan bisa membina rumah tangga dengan kekerasan dan berharap akan kokoh. Lelaki macam apa yang bisa menyakiti istrinya, membiarkannya berdarah dalam gelapnya malam, melukai jiwanya untuk selamanya. Sang istri yang berusaha menutupi memar dari pandangan orang lain. Suami yang selalu menuntut tanggung jawab istri tanpa mengingat tanggung jawabnya sendiri. Sebagai suami kau seharusnya menafkahi, melindungi, menghargai, menuntun dan menjaga istrimu. Kau dalah pelindungnya, pasangan hidupnya, pangerannya, yang harusnya mempesonanya, kesatrianya yang berkilau tapi sang kesatria berubah menjadi mimpi buruk, ketika kau mulai menyakitinya dan istrimu berlutut sambil memohon, “tolong redakan amarahmu aku mohon kesabaran adalah utam, mungkin aku tak mendengarmu tadi aku tak bermaksud menyiinggungmu kumohon jangan marah kumohon, jangan sampai anak kita melihat ayahnya seperti ini” sungguh memuakkan dan menyedihkan, bahwa hal ini sungguh terjadi di sekitar kita begitu banyak rumah dengan keluarga yang rusak sungguh bencana kalau kita melupakan makna pernikahan. Apakah kau lupa siapa pria terbaik.? “Adalah mereka yang berlaku terbaik pada istrinya” itulah sabda dari seseorang yang tak akan pernah melukai budak, anak, atau istri dalam sepanjang hidupnya rasulullah (SAW). Beliau lah panutan terbaik untuk belajar cara memperlakukan wanita. Seandainya istri beliau memasak untuknya, beliau pasti memakannya, dan bila tak enak beliau tak akan menunjukan rasa tidak suka barang sedikitpun. Bahkan beliau selalu menolak undangan makan kecuali istrinya juga diundang. Beliau selalu membantu kerjaan rumah sang istri agar memperingan bebannya. Beliaulah kesempurnaan dalam sikap sopan, dan beliau mengajarkan bahwa pri terkuat bukanlah yang tahu bagaimana cara bertarung tapi adalah yag bisa menahan amarahnya. Maka bersabarlah saudaraku. Apakah kau akan membiarkan kalau ibumu, anak perempuanmu, atau saudara perempuanmu disakiti? Kau tak akan bisa melihat pria lain menyiksa mereka. Jadi sebelum kau bahkan berpikir untuk memukul istrimu dan membuatnya trauma ingatlah bahwa dia adalah ibu, anak dan saudara milik orang lain. Wahai para istri, tak ada manusia yang berhak hidup selalu dalam kekerasan. Jadi bila suamimu menyakitimu, jangan hanya diam dan berjuang sendirian tapi mintalah bantuan pada Allah (SWT), dan kemudian orang lain dan biar semua tahu kau tak terima lagi untuk hidup dirumah yang paling rapuh. Kekerasan terhadap perempuan, islam berkata tidak. .
“...dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, jika mereka mengetahuinya” (Qs.Al Ankabut ayat 41)
Bukan hanya karena jaringnya, tapi juga krena apa yang terjadi didalamnya sarang yang penuh dengan pertengkaran kejam, pasangan hidup yang saling menyakiti, mereka saling memakan. Setelah selesai berhubungan, laba-laba betina akan memakan yang jantan. Memakan pasangannya sendiri. Sungguh menjijikan. Begitupun dengan anak-anaknya. Setelah dewasa, mereka akan memakan ibunya sendiri. Betapa seram dan kejam. Aku tak ingin membayangkannya, tapi itu realita. Dan keluarga laba-laba dijadikan perumpamaan, bukan karena tuhan kejam, tapi karena Allah ingin membuktikan bahwa rumah paling rapuh adalah yang penghuniinya disalah gunakan.
Pernikahan seharusnya membawa kebahagiaan, dan rumah adalah tempat berlindung yang penuh ketentraman dan rasa nyaman. Dan seandainya ada pertengkaran, sadarlah bahwa pernikahan bukan hanya tentang dirimu seorang, tapi adalah dua orang yang belajar hidup menjadi satu didalam yang merasa saling memiliki dengan cinta, kebaikan dan kemurahan hati. Dimana tak perlu bertengkar setiap ada hal kecil yang salah. Karena, kau tak akan bisa membina rumah tangga dengan kekerasan dan berharap akan kokoh. Lelaki macam apa yang bisa menyakiti istrinya, membiarkannya berdarah dalam gelapnya malam, melukai jiwanya untuk selamanya. Sang istri yang berusaha menutupi memar dari pandangan orang lain. Suami yang selalu menuntut tanggung jawab istri tanpa mengingat tanggung jawabnya sendiri. Sebagai suami kau seharusnya menafkahi, melindungi, menghargai, menuntun dan menjaga istrimu. Kau dalah pelindungnya, pasangan hidupnya, pangerannya, yang harusnya mempesonanya, kesatrianya yang berkilau tapi sang kesatria berubah menjadi mimpi buruk, ketika kau mulai menyakitinya dan istrimu berlutut sambil memohon, “tolong redakan amarahmu aku mohon kesabaran adalah utam, mungkin aku tak mendengarmu tadi aku tak bermaksud menyiinggungmu kumohon jangan marah kumohon, jangan sampai anak kita melihat ayahnya seperti ini” sungguh memuakkan dan menyedihkan, bahwa hal ini sungguh terjadi di sekitar kita begitu banyak rumah dengan keluarga yang rusak sungguh bencana kalau kita melupakan makna pernikahan. Apakah kau lupa siapa pria terbaik.? “Adalah mereka yang berlaku terbaik pada istrinya” itulah sabda dari seseorang yang tak akan pernah melukai budak, anak, atau istri dalam sepanjang hidupnya rasulullah (SAW). Beliau lah panutan terbaik untuk belajar cara memperlakukan wanita. Seandainya istri beliau memasak untuknya, beliau pasti memakannya, dan bila tak enak beliau tak akan menunjukan rasa tidak suka barang sedikitpun. Bahkan beliau selalu menolak undangan makan kecuali istrinya juga diundang. Beliau selalu membantu kerjaan rumah sang istri agar memperingan bebannya. Beliaulah kesempurnaan dalam sikap sopan, dan beliau mengajarkan bahwa pri terkuat bukanlah yang tahu bagaimana cara bertarung tapi adalah yag bisa menahan amarahnya. Maka bersabarlah saudaraku. Apakah kau akan membiarkan kalau ibumu, anak perempuanmu, atau saudara perempuanmu disakiti? Kau tak akan bisa melihat pria lain menyiksa mereka. Jadi sebelum kau bahkan berpikir untuk memukul istrimu dan membuatnya trauma ingatlah bahwa dia adalah ibu, anak dan saudara milik orang lain. Wahai para istri, tak ada manusia yang berhak hidup selalu dalam kekerasan. Jadi bila suamimu menyakitimu, jangan hanya diam dan berjuang sendirian tapi mintalah bantuan pada Allah (SWT), dan kemudian orang lain dan biar semua tahu kau tak terima lagi untuk hidup dirumah yang paling rapuh. Kekerasan terhadap perempuan, islam berkata tidak. .
Kamis, 17 September 2015
dimana pemimpin muslim
Kita melihat kematian, kehancuran. sebagian orang merasakan sakit, sedih dan sebagiannya lagi acuh tak peduli, kita melihat kucuran darah dari pembuluh darah mereka, melihat potongan daging segar terbang. kehancuran mereka , tangisan, jeritan dijalan-jalan dan malam bergema seperti adzan, “Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar” tapi tak ada satupun yang ada disana, sibuk dengan layarnya, lifestyle, dan majalah. Dimana kita ? didepan layar melihat palestina, suriah, irak membayar kemerdekaan... lalu apalagi yang hancur selanjutnya, berbondong-bondong imigran pergi ke eropa, lalu dimana saudi arabia, mesir, bahrain, kuwait dimana pemimpin muslim... dimana mereka... pergi berkilo-kilo meter bayangkan timur tengah ke eropa hanya untuk mencari tempat untuk tidur.
Apakah kita benar manusia? Kita menutup mata, telinga, hati dan pikiran kita untuk penderitaan tersebut...
apakah kita benar benar manusia mengejar dan merawat kertas-kertas hijau nominal
apakah kita benar manusia? Ketika kita menangisi layar retak tapi menutup mata akan tengkorak-tengkorak retak
Apakah kita layak menyandang status sebagai MANUSIA ?
Apakah kita benar manusia? Kita menutup mata, telinga, hati dan pikiran kita untuk penderitaan tersebut...
apakah kita benar benar manusia mengejar dan merawat kertas-kertas hijau nominal
apakah kita benar manusia? Ketika kita menangisi layar retak tapi menutup mata akan tengkorak-tengkorak retak
Apakah kita layak menyandang status sebagai MANUSIA ?
Purpose of life
Purpose of life
What Are We Doing Here, And Where Are We Gonna Go
Besides We Just Woke Up One Morning, And Then It's Welcome To The Show
Dont Ask Any Questions Just Go With The Flow
Make As Much Money As You Can, And Try Your Best Not To Get Broke
Copy Everything You See On A T.v., From A Hairstyles To The Clothes
And Dont Think To Often, Just Do Exactly As You're Told
And If You Ever Get Confused, Then Just Turn Towards The Alcohol
You Still Here Thoughts? Then Just Turn Up The Radi-o
As You Learn To Live A Lifestyle Of Drugs, Sex, And Rock-n-roll
But In All Honesty, I Just Need To Know
Is There More To The Cycle Than Owing And Getting Owed
Livin And Dyin Just To Leave Behind A Happy Home
And A Whole Lotta Property That Just Somebody Else Is Gonna Own
I Just Really Need To Know Before The Caste Gets Closed
Because M Not Willing To Gamble With My Soul, Nor Am I Ready To Take Any Chances
These Are Just Simple Life Questions And M Just Searching For Some Answers
Like What Are We Doing Here? What Is Our Purpose?
How Did We Get Here And Who Made Us So Perfect?
Or What Happens Once We Go, For Is This World Really Worth It?
Questions We Dont Answer, B'coz Apparently We Dont Really Have To.
There's No Purpose To This Life And Our Existence Its Merely Natural
Then In That Case Please Let Me Ask You
Did You Create Yourself? Or Was It Somebody Else Who Had Fashioned You?
Coz You're A Being That's Impecable, For Less Than Unparalleled
You're A Product Of Supreme Intelligence, And Are Merely Being Irrational
For There Isnt A Camera On This Earth That Has Come Close To The Human Eye
Nor A Computer That Can Compete Alongside A Human Mind
And If The Whole World Was To Come Together, We Wouldn't Be Able To Create A Single Fly
So Many Signs Yet We Still Deny
Science Tries To Justify That All This Could Come From None
When It's A Simple Sum, Zero Plus Zero Plus Zero Cannot Possibly Ever Give You One
So From Where Did All This Order Come?
For Everything Has It's Origins, A Maker, A Creator Of Its Own
I Mean The Only Reason You're Watching This Video Because Somebody Had To Press Upload
So We Can Believe In The Big Bang But I Would Rather Believe In He Who Caused It To Explode
Allaah! The Creator Of Everything Along With Every Single Soul
The Ever Living, The Master, The Only One Who Is In Control
Unlike His Creation Beyond Our Imagination
And Know! He's Not A Man Nor Does He Has Any Partners In Association, He's On His Own
And Know He Did Not Ever Leave Us Alone
Just Like Every Man Of Factura, He Left Us With An Instruction Manual
The Qur'aan And Islam And M Sorry To Jump To Conclusion But Its The Only One Possible
The Only Definition Of God Is The One And Only, Supreme Being. It's Logical!
A Book With Zero Contradictions, With Miracles That Are Both Scientific And Historical
All Are Viewed Over 1400 Years Ago
Like The Detailed Description Of The Human Embryo
"the Descriptions Of The Human Embryo In The Quran Cannot Be Based On Scientific Knowledge In The 7th Century" - (a Scientist In The Video)
To The Mountains As Pegs Holding Firm The Earth Below
And The Two Seas That Dont Mix In A Complete Separate Flow
To The Planets In Orbit, Alternating Night And Day As They Stay In Flow
The Expansion Of The Universe And The Creation Of Everything From H2o To The Stories Of The Past And The Preservation Of Pharaoh
To Identifying The Lowest Point In Land Where The Persia Defeated Rome
The Gushing Fluid That Created Man In The Glands Between Ribs And The Backbone
And Not A Word Has Changed, Its Still The Same. So Please Explain How All This Was Known?
Over 1400 Years Ago, To A Man Who Couldn't Read Or Write, As He Would Recite Whatever The Angels Spoke.
And If You Still Dont Believe, Please Try To Come Up With Something That's Even Close
But You Can't. So We Took God As A Mockery And His Messenger As A Joke.
Dismiss These Scriptures And Legends And The Tails Of The Ancient Folk, As We Live Life According To Our Whims, Desires And Hopes
Saying This Life Is The Only Home We Would Ever Know. We Will Live And Die And Simply Turn To Bones.
Yo-lo. Correction. After The Grass Dies, The Rain Arrives And It Re-grows.
And Allah Promises To Do This Same Thing To Your Very Soul.
And Bring You Back From Your Very Fingertips To Your Toes
As The All-seeing Supreme Being Watches Us So Close. And We Are Surely Being Tested.
In Our Wealth, Our Health, In Our Self And Everything That We've Been Blessed With
So Believe For We Will Surely Be Ressurected And Be Brought Back To Our Lord
And Account For Every Single Deed As He Hands Us Our Books (of Our Deeds In This World) And Orders Us To Read
From The Bad To The Good And Everything In Between.
You Yourself Was Sufficient For Your Own Accountability
So Dont Be Mad At Me, You Were The One Who Thought Who Wouldnt Come Back To Me
I Gave You A Whole Life Long To Search After Me, But You Were Busy In All That Which Was Temporary
So Read! And Glad Tidings To All Those Who Believe. Then If You Disbelive, Read!
And Dont Let That Day Be The First Day You Find Out What Your Life Really Means. Read!
Kamal saleh
What Are We Doing Here, And Where Are We Gonna Go
Besides We Just Woke Up One Morning, And Then It's Welcome To The Show
Dont Ask Any Questions Just Go With The Flow
Make As Much Money As You Can, And Try Your Best Not To Get Broke
Copy Everything You See On A T.v., From A Hairstyles To The Clothes
And Dont Think To Often, Just Do Exactly As You're Told
And If You Ever Get Confused, Then Just Turn Towards The Alcohol
You Still Here Thoughts? Then Just Turn Up The Radi-o
As You Learn To Live A Lifestyle Of Drugs, Sex, And Rock-n-roll
But In All Honesty, I Just Need To Know
Is There More To The Cycle Than Owing And Getting Owed
Livin And Dyin Just To Leave Behind A Happy Home
And A Whole Lotta Property That Just Somebody Else Is Gonna Own
I Just Really Need To Know Before The Caste Gets Closed
Because M Not Willing To Gamble With My Soul, Nor Am I Ready To Take Any Chances
These Are Just Simple Life Questions And M Just Searching For Some Answers
Like What Are We Doing Here? What Is Our Purpose?
How Did We Get Here And Who Made Us So Perfect?
Or What Happens Once We Go, For Is This World Really Worth It?
Questions We Dont Answer, B'coz Apparently We Dont Really Have To.
There's No Purpose To This Life And Our Existence Its Merely Natural
Then In That Case Please Let Me Ask You
Did You Create Yourself? Or Was It Somebody Else Who Had Fashioned You?
Coz You're A Being That's Impecable, For Less Than Unparalleled
You're A Product Of Supreme Intelligence, And Are Merely Being Irrational
For There Isnt A Camera On This Earth That Has Come Close To The Human Eye
Nor A Computer That Can Compete Alongside A Human Mind
And If The Whole World Was To Come Together, We Wouldn't Be Able To Create A Single Fly
So Many Signs Yet We Still Deny
Science Tries To Justify That All This Could Come From None
When It's A Simple Sum, Zero Plus Zero Plus Zero Cannot Possibly Ever Give You One
So From Where Did All This Order Come?
For Everything Has It's Origins, A Maker, A Creator Of Its Own
I Mean The Only Reason You're Watching This Video Because Somebody Had To Press Upload
So We Can Believe In The Big Bang But I Would Rather Believe In He Who Caused It To Explode
Allaah! The Creator Of Everything Along With Every Single Soul
The Ever Living, The Master, The Only One Who Is In Control
Unlike His Creation Beyond Our Imagination
And Know! He's Not A Man Nor Does He Has Any Partners In Association, He's On His Own
And Know He Did Not Ever Leave Us Alone
Just Like Every Man Of Factura, He Left Us With An Instruction Manual
The Qur'aan And Islam And M Sorry To Jump To Conclusion But Its The Only One Possible
The Only Definition Of God Is The One And Only, Supreme Being. It's Logical!
A Book With Zero Contradictions, With Miracles That Are Both Scientific And Historical
All Are Viewed Over 1400 Years Ago
Like The Detailed Description Of The Human Embryo
"the Descriptions Of The Human Embryo In The Quran Cannot Be Based On Scientific Knowledge In The 7th Century" - (a Scientist In The Video)
To The Mountains As Pegs Holding Firm The Earth Below
And The Two Seas That Dont Mix In A Complete Separate Flow
To The Planets In Orbit, Alternating Night And Day As They Stay In Flow
The Expansion Of The Universe And The Creation Of Everything From H2o To The Stories Of The Past And The Preservation Of Pharaoh
To Identifying The Lowest Point In Land Where The Persia Defeated Rome
The Gushing Fluid That Created Man In The Glands Between Ribs And The Backbone
And Not A Word Has Changed, Its Still The Same. So Please Explain How All This Was Known?
Over 1400 Years Ago, To A Man Who Couldn't Read Or Write, As He Would Recite Whatever The Angels Spoke.
And If You Still Dont Believe, Please Try To Come Up With Something That's Even Close
But You Can't. So We Took God As A Mockery And His Messenger As A Joke.
Dismiss These Scriptures And Legends And The Tails Of The Ancient Folk, As We Live Life According To Our Whims, Desires And Hopes
Saying This Life Is The Only Home We Would Ever Know. We Will Live And Die And Simply Turn To Bones.
Yo-lo. Correction. After The Grass Dies, The Rain Arrives And It Re-grows.
And Allah Promises To Do This Same Thing To Your Very Soul.
And Bring You Back From Your Very Fingertips To Your Toes
As The All-seeing Supreme Being Watches Us So Close. And We Are Surely Being Tested.
In Our Wealth, Our Health, In Our Self And Everything That We've Been Blessed With
So Believe For We Will Surely Be Ressurected And Be Brought Back To Our Lord
And Account For Every Single Deed As He Hands Us Our Books (of Our Deeds In This World) And Orders Us To Read
From The Bad To The Good And Everything In Between.
You Yourself Was Sufficient For Your Own Accountability
So Dont Be Mad At Me, You Were The One Who Thought Who Wouldnt Come Back To Me
I Gave You A Whole Life Long To Search After Me, But You Were Busy In All That Which Was Temporary
So Read! And Glad Tidings To All Those Who Believe. Then If You Disbelive, Read!
And Dont Let That Day Be The First Day You Find Out What Your Life Really Means. Read!
Kamal saleh
Selasa, 15 September 2015
abu hanifah
Di zaman Imam Abu Hanifah rahimahullah terdapat sekelompok kaum Sumaniyah yang atheis. Mereka mengingkari keberadaan Allah dan menyatakan alam tercipta secara kebetulan. Langit, bumi, gunung dan lautan menurut mereka juga ada secara kebetulan.
Suatu hari mereka berdebat dengan Abu Hanifah soal keyakinan ini. Karena perdebatan berlangsung lama dan tak kunjung selesai, Abu Hanifah minta debat ditunda beberapa hari. Mereka pun menentukan hari dan waktu debat berikutnya.
Tiba jam yang disepakati, Abu Hanifah belum tiba di lokasi. “Mana Abu Hanifah? Ia terlambat, tak menepati janji?” kata orang-orang Sumaniyah kepada kaum muslimin yang hendak menyaksikan perdebatan itu.
“Mengapa kamu terlambat? Kemarin kamu mengatakan Allah itu ada dan memperhitungkan semua amalmu, mana bukti semua kata-katamu?” seorang tokoh Sumaniyah segera mencerca dengan serentetan pertanyaan begitu Abu Hanifah datang.
“Wahai semuanya,” jawab Abu Hanifah yang ternyata sengaja datang terlambat, “Jangan terburu-buru menilaiku. Saat aku hendak menyeberangi sungai, aku tidak mendapatkan perahu. Tak ada satu pun perahu di sana.”
“Lalu bagaimana kau bisa kemari?”
“Ada sesuatu yang aneh terjadi”
“Aneh? Apa itu?”
“Aku berdiri di tepi sungai. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari barangkali ada perahu, sambil berharap semoga Allah memudahkanku datang kemari. Tiba-tiba, secara kebetulan ada angin berhembus kencang. Lalu ada petir besar menyambar. Jika ia menyambar rumah, mungkin rumah itu akan roboh. Tapi secara kebetulan petir itu menyambar sebuah pohon besar, lalu pohon tersebut terbelah menjadi dua. Secara kebetulan, robohnya ke sungai. Lalu secara kebetulan datanglah potongan besi dan ada dahan yang masuk ke sana membentuk kapak. Secara kebetulan kapak itu bergerak-gerak menghantam potongan pohon tersebut dan jadilah sebuah perahu. Tak berhenti di situ, ada dua ranting yang jatuh ke sungai dan menempel di sisi kanan dan sisi perahu, setelah itu perahu tersebut mendekat padaku dan aku naik. Begitu aku di atasnya, perahu itu mendayung sendiri dengan cepat hingga aku bisa tiba di sini. Nah, begitu ceritanya. Sekarang, mari kita lanjutkan diskusi kita, apakah alam semesta ini tercipta secara kebetulan atau tidak?”
“Tunggu sebentar! Kau ini waras atau tidak?” tanya mereka yang masih terheran-heran dengan cerita Abu Hanifah.
“Waras”
“Tapi ceritamu itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah perahu bisa tercipta dari petir yang menyambar secara kebetulan lalu terpotong secara kebetulan dari pohon dan ranting jatuh menempel di sisi kanan dan kiri perahu. Tidak mungkin. Untuk membuat perahu dibutuhkan orang yang mengerjakannya, memotong kayunya, memasang tali, membuat sampan dan seterusnya.”
“Subhanallah,” jawab Abu Hanifah, “Kalian mengatakan bahwa langit, bumi, gunung, laut, manusia, hewan, matahari, bulan dan bintang semuanya secara kebetulan; tapi mengapa kalian tak percaya bahwa ada satu perahu yang tercipta secara kebetulan?” jawaban itu membuat orang-orang atheis Sumaniyah terbungkam. Mereka tak berkutik.
Suatu hari mereka berdebat dengan Abu Hanifah soal keyakinan ini. Karena perdebatan berlangsung lama dan tak kunjung selesai, Abu Hanifah minta debat ditunda beberapa hari. Mereka pun menentukan hari dan waktu debat berikutnya.
Tiba jam yang disepakati, Abu Hanifah belum tiba di lokasi. “Mana Abu Hanifah? Ia terlambat, tak menepati janji?” kata orang-orang Sumaniyah kepada kaum muslimin yang hendak menyaksikan perdebatan itu.
“Mengapa kamu terlambat? Kemarin kamu mengatakan Allah itu ada dan memperhitungkan semua amalmu, mana bukti semua kata-katamu?” seorang tokoh Sumaniyah segera mencerca dengan serentetan pertanyaan begitu Abu Hanifah datang.
“Wahai semuanya,” jawab Abu Hanifah yang ternyata sengaja datang terlambat, “Jangan terburu-buru menilaiku. Saat aku hendak menyeberangi sungai, aku tidak mendapatkan perahu. Tak ada satu pun perahu di sana.”
“Lalu bagaimana kau bisa kemari?”
“Ada sesuatu yang aneh terjadi”
“Aneh? Apa itu?”
“Aku berdiri di tepi sungai. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari barangkali ada perahu, sambil berharap semoga Allah memudahkanku datang kemari. Tiba-tiba, secara kebetulan ada angin berhembus kencang. Lalu ada petir besar menyambar. Jika ia menyambar rumah, mungkin rumah itu akan roboh. Tapi secara kebetulan petir itu menyambar sebuah pohon besar, lalu pohon tersebut terbelah menjadi dua. Secara kebetulan, robohnya ke sungai. Lalu secara kebetulan datanglah potongan besi dan ada dahan yang masuk ke sana membentuk kapak. Secara kebetulan kapak itu bergerak-gerak menghantam potongan pohon tersebut dan jadilah sebuah perahu. Tak berhenti di situ, ada dua ranting yang jatuh ke sungai dan menempel di sisi kanan dan sisi perahu, setelah itu perahu tersebut mendekat padaku dan aku naik. Begitu aku di atasnya, perahu itu mendayung sendiri dengan cepat hingga aku bisa tiba di sini. Nah, begitu ceritanya. Sekarang, mari kita lanjutkan diskusi kita, apakah alam semesta ini tercipta secara kebetulan atau tidak?”
“Tunggu sebentar! Kau ini waras atau tidak?” tanya mereka yang masih terheran-heran dengan cerita Abu Hanifah.
“Waras”
“Tapi ceritamu itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah perahu bisa tercipta dari petir yang menyambar secara kebetulan lalu terpotong secara kebetulan dari pohon dan ranting jatuh menempel di sisi kanan dan kiri perahu. Tidak mungkin. Untuk membuat perahu dibutuhkan orang yang mengerjakannya, memotong kayunya, memasang tali, membuat sampan dan seterusnya.”
“Subhanallah,” jawab Abu Hanifah, “Kalian mengatakan bahwa langit, bumi, gunung, laut, manusia, hewan, matahari, bulan dan bintang semuanya secara kebetulan; tapi mengapa kalian tak percaya bahwa ada satu perahu yang tercipta secara kebetulan?” jawaban itu membuat orang-orang atheis Sumaniyah terbungkam. Mereka tak berkutik.
Senin, 14 September 2015
dear mom
Teruntuk wanita
yang mencintaiku sebelum aku lahir
Teruntuk wanita yang memeluk hatiku jauh
sebelum ia terbentuk,Teruntuk wanita yang selalu terjaga dari senja hingga
fajar dengan kelemahan demi kelemahan untuk sembilan bulan lamanya menyemangati
dirinya sendiri bahwa itu adalah sesuatu yang patut diperjuangkan hingga ketika
pada akhirnya ia sampai dirumah sakit itu adalah cinta pada pandangan pertama
sebab ia melihat..........ku
Dia adalah
seseorang yang rela memberikan sandal satu-satunya demi jari-jari kakiku tetap
merasa aman dia akan selalu membuatku terlindungi meskipun faktanya dialah yang
lebih membutuhkan dia selalu bangun lebih awal setiap paagi untuk
berdingin-dinginan menjemur pakaian yang kita kotori berdiri didepan kompor
berjam-jam memasak semangkuk makanan dan ketika aku tak pulang kerumah hatinya
akan terkoyak maksudku ia takkan pernah bisa tidur ketika aku sedang bepergian
dia akan menunggu sepanjang malam dibalik telepon meskipun kita tidak pernah
menghubunginya jadi mengirimku pesan “tolong aku tak bisa tidur. Katakan padaku
bahwa kau aman dan sehat” dan kapanpun aku sakit, dia selalu tahu apa obatnya
maksudku, cinta yang ia berikan padaku adalah obat terbaik dan paling
menyemuhkan komposisi teh, madu, campuran lemon... apalagi yang bisa saya minta
Alhamdulillah, segala puji bagi allah. Ia melakukan itu semua tanpa meminta
imbalan sedikitpun. Aku masih ingat suatu malam ketika aku kecil aku tak akan
bisa tidur sampai aku merengek dari luar kamar “tolong kecup aku” dan kau akan
menghampiriku cinta yang kau berikan kepadaku selama ini mustahil bisa ku
abaikan aku mencintaimu, ibu. maaf aku tak pernah mengatakan ini sebelumnya aku
minta maaf untuk semuanya, ibu. Aku minta maaf karena meninggalkanmu sesaat
setelah kau mengajariku bagaimana merangkak aku minta maaf karena berkata “ah”
setiap kau menyuruhku mengerjakan hal sederhana. Aku tak pernah membantumu
mencuci pirng meskipun aku tau tanganmu sedang sakit aku minta maaf lagi dan
lagi untuk semua janji yang ku ingkari dan aku minta maaf karena tidak bisa
memenuhi harapanmu, dari semua itu aku minta maaf atas rasa sakit yang aku
sebabkan untuk malam-malammu dan untuk panggilan yang tak aku jawab untuk
setiap pertengkaran dan untuk semua tembok yang aku rusak, untuk setiap ruangan
yang aku kotori dan pakaian yang hanya bisa ku acak-acak dan untuk setiap
pengorbanan yang tak pernah bisa aku balas walau sekali ketika kau memutuskan
menjadi ibuku yang itu berarti kau harus meninggalkan semua kesenanganmu aku
tau bagaimana kau mencintainya, merindukannya aku yahu itu mengiris hatimu
seperti belati tapi jika aku punya hak untukmu aku akan membiarkanmu melihatnya
selama waktu yang kau bisa jadi aku berjanji untuk menjadi seorang anak yang
bisa kau banggakan mulai dari sekarang.. jadi maafkanlah aku, maafkan aku atas
semua yang telah aku lakukan, maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan
dari sejak aku kecil dan bodoh hanya mencari kesenangan oh ibu, aku cinta kau,
aku cinta kau aku berjanji tak akan pernah mementingkan orang lain daripadamu
dan ketika nanti aku menikah kau akan selalu menjadi ratuku sebab tak ada satu
kata pun yang dapat mewakili berharganya engkau untukku juga tak akan ada yang
sepadan untuk membayar semua jasamu. Maka aku berdoa setiap hari untukmu agar
allah senantiasa mengasihimu seperti engkau mengasihiku sedari kecil dan aku
punya satu permintaan terakhir sebelum kau pergi. Tolong
sejak Allah meletakkan surga dibawah telapak
kakimu, tolong mintakan pada Allah untuk menjadikan surga tempat kita bisa
bertemu kembali. Aamiin
Langganan:
Komentar (Atom)
