Senin, 28 September 2015

tadinya



Suatu ketika ada seorang anak bodoh yang menyadari kebodohannya, ia tak peduli dengan apapun selain belajar dan belajar namun suatu ketika ada sesuatu didunia ini yang mengalihkan perhatiannya dan dia mulai memikirkan dan semenjak saat itu belajar bukan lagi menjadi satu-satunya hal yang dipikirkannya, sesuatu itu ialah perempuan. Ia jatuh cinta dan mulai menggeser prinsip belajarnya itu sudah lama ia mengabaikan apapun yang ada dihadapannya namun kali ini bagi dia berbeda, malam demi malam dilaluinya pesan-pesan selulerpun mulai mengalir begitu saja mengungkapkan setiap rindu, dan mengobrol semalaman tak lantas terlewatkan olehnya, dan puisi yang dianggapnya sakral mulai memenuhi inbox
taman
 Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
                                                                                           

 namun suatu ketika pesan-pesan yang terkirim hanya sebuah kepalsuan maka puisi sakral itu pun berubah
Tadinya taman
 Tadinya taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
T
adinya taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Tadinya Kau kembang, aku kumbang
Tadinya aku kumbang, kau kembang
Kecil,
Tadinya penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
tadinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar