Suatu ketika ada
seorang anak bodoh yang menyadari kebodohannya, ia tak peduli dengan apapun
selain belajar dan belajar namun suatu ketika ada sesuatu didunia ini yang
mengalihkan perhatiannya dan dia mulai memikirkan dan semenjak saat itu belajar
bukan lagi menjadi satu-satunya hal yang dipikirkannya, sesuatu itu ialah
perempuan. Ia jatuh cinta dan mulai menggeser prinsip belajarnya itu sudah lama
ia mengabaikan apapun yang ada dihadapannya namun kali ini bagi dia berbeda,
malam demi malam dilaluinya pesan-pesan selulerpun mulai mengalir begitu saja
mengungkapkan setiap rindu, dan mengobrol semalaman tak lantas terlewatkan
olehnya, dan puisi yang dianggapnya sakral mulai memenuhi inbox
taman
Taman
punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
namun suatu ketika pesan-pesan yang terkirim
hanya sebuah kepalsuan maka puisi sakral itu pun berubah
Tadinya taman
Tadinya taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Tadinya taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Tadinya Kau kembang, aku kumbang
Tadinya aku kumbang, kau kembang
Kecil, Tadinya penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Tadinya taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Tadinya Kau kembang, aku kumbang
Tadinya aku kumbang, kau kembang
Kecil, Tadinya penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
tadinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar